Saat ini dunia mengalami perubahan besar, sebuah proses perubahan
yang dapat menimbulkan berbagai kemungkinan. Hanya dalam beberapa tahun, kita
telah menyaksikan munculnya masyarakat pasca industri, datangnya era informasi,
loncatan ke era komputerisasi, cyberspace,
lahirnya bioteknologi, dan tak kurang dari perubahan-perubahan ini, revolusi
hubungan antar manusia.
Globalisasi telah menjadikan dunia bagaikan sebuah “kampung", global village. Batas-batas teritorial
tidak lagi efektif membendung arus informasi, budaya, pengetahuan, teknologi
dan sistem nilai. Regulasi pemerintah semakin terbuka bagi masuknya kompetisi
global untuk hampir semua sektor, terlebih setelah kita masuk ke dalam era
perdagangan bebas.
Dapat dinyatakan secara aksiomatik bahwa di era
globalisasi dewasa ini tidak ada organisasi yang dapat bergerak dalam keadaan
terisolasi. Artinya, tidak ada organisasi yang boleh mengambil sikap tidak
perduli terhadap apa yang terjadi dalam lingkungan dimana ia bergerak. Salah
satu konsekuensi logis dari kenyataan demikian adalah manajemen sumber daya manusia
harus peka terhadap berbagai perubahan yang terjadi disekitar organisasi/company, karena perubahan yang terjadi
itu akan menimbulkan berbagai jenis tantangan yang harus dihadapi dan diatasi
dengan baik.
Untuk dapat mempertahankan dan menegaskan eksistensi organisasi/company pada era kini dan
nanti, terlebih untuk
memenangkan kompetisi, para pemimpin dan manajer harus mampu
berpikir lebih cepat, bekerja lebih cerdas, berimajinasi lebih merdeka, menjalin
komunikasi dan berhubungan dengan orang lain dengan cara-cara yang sangat
berbeda. Hal yang sangat penting adalah, selalu
tersedianya ruang untuk berkreasi dan melahirkan inovasi, ruang untuk menyerap
informasi dan pengetahuan baru termasuk untuk kritik dan masukan dari siapapun
demi untuk menumbuhkan diri menjadi pribadi lebih besar. Ini bisa dicapai
dengan mengembangkan kapasitas diri secara intensif.
Organisasi/company harus
bergerak cepat mengadaptasikan diri beserta seluruh komponen manusia di
dalamnya untuk menjawab tantangan perubahan yang akan selalu muncul
sewaktu-waktu, baik dari sumber internal maupun eksternal. Oleh karena itu,
seluruh SDM yang terlibat dalam aktivitas organisasi/company harus disiapkan sedemikan rupa agar mempunyai karakter
mental yang kuat, memiliki determinasi diri.
Determinasi bisa diartikan sebagai komitmen yang menggumpal,
dedikasi yang terus mengalir dan selalu fokus pada tujuan akhir yang jelas. Konsisten. Percaya bahwa
dirinya mampu mengubah nasib untuk menjadi lebih baik. Selalu yakin bahwa diri sendirilah yang paling bertanggungjawab untuk merajut
sukses dan mewujudkan mimpi dan harapan, juga menyadari adanya potensi diri
(sadar akan kekuatan pikiran, emosi dan tindakan) yang bisa mereka kontribusikan untuk kemajuan organisasi/company.
Orang-orang yang demikian pada akhirnya menjadi manusia tangguh,
tidak mudah mengeluh dan tidak pernah menyalahkan orang lain manakala dihadang
oleh segumpal tantangan di lapangan. Tidak mudah frustasi terhadap dinamika yang terjadi, lapang dada
menerima tantangan dan bahkan mampu menikmati setiap proses yang
mengantarkannya kepada pintu keluar dari masalah. Mereka memiliki kegigihan
yang luar biasa dalam memperjuangkan visi dan nilai-nilai inti dalam diri,
organisasi/company dan nilai-nilai
kehidupan universal dalam lingkup yang lebih luas.
Manusia dengan determinasi diri yang kuat lebih suka selalu menelisik masalah lalu mencari solusi
untuk setiap tantangan yang menghadang. Sebab mereka percaya, mengeluh hanyalah
layak untuk para pecundang. Dan tentu saja mereka tidak mau disebut sebagai
para pecundang.
Karakter inilah yang dibutuhkan untuk memastikan organisasi/company berhasil mencapai visi
terbesarnya, terlebih di dalam badai dinamika global yang penuh dengan
ketidakpastian.
Pembantukan karakter inilah yang menjadi fokus utama kami dalam program Capacity Building selama 2 hari
dalam bentuk workshoup in house berjudul
“How To Create Personal Determination To Achieve Ultimate
Destiny”.
Tujuan Workshop
Setelah mengikuti training
ini, para peserta diharapkan mampu :
1.
Mengoptimalkan
kepercayaan dan keyakinan diri tinggi dalam
menghadapi dinamika perubahan, baik dalam tataran personal maupun organisasi/company.
2.
Mensinergikan
kecerdasaan intelektual-emosional-spiritualnya
untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi diri.
3.
Membangkitkan
keyakinan atau belief yang positif, serta mampu menebarkannya
kepada orang-orang di lingkungan kerjanya.
4.
Memahami
pentingnya membangun hubungan baik
dalam teamwork.
5.
Meningkatkan
spirit menjadi yang terbaik, dalam
perencanaan personal maupun profesional .
6.
Memiliki action plan yang jelas dan tegas, namun
tetap fleksibel dalam menghadapi perubahan.
7.
Menjadi sosok individu baru yang penuh gairah
(passion), gigih (persistence) dan mempunyai komitmen yang menggumpal
(determination).
8.
Mampu menciptakan peluang dan terobosan
kreatif untuk menunjang jenjang karir demi terwujudnya cita-cita dan
harapan.
Program Workshop
Workshop dilaksanakan dalam waktu 2 (dua) hari dengan
efektifitas 8 session @ 90 menit.
Selama dua hari tersebut, materi
dibagi dalam 3 kelompok tema dengan fokus sebagai berikut:
1.
BUILDING PLANNING & BELIEF SYSTEM
þ Brainware Management
Otak manusia adalah sebuah
misteri. Di dalamnya terkandung potensi luar biasa bagi yang bisa
menggunakannya secara optimal. Namun sayang, tidak semua orang menyadari,
mengerti dan mampu mengoptimalkannya. Oleh karena itu mengetahui bagian-bagian
otak, system kerja otak, pengaruh kerja otak terhadap perilaku manusia dan
sebagainya menjadi sangat penting.
Dalam topik ini, peserta
mendapatkan pelajaran berharga mengenai:
·
Brain
Potentials
·
The
Three Brain in One (neocortec, limbic system, reptilian brain)
·
Left
and Right Brain
·
Conscious
and Sub-Conscious mind
·
VAK
(Visual, Auditory, Kinesthetic) Learning Styles
·
Personality
Intelligence
þ The Intrapersonal Realm
Kemampuan dan kemapanan
diri untuk mengetahui dan mengelola diri sendiri, meliputi:
·
Kesadaran diri
Kemampuan
untuk mengenali perasaan dan mengapa perasaan mempengaruhi perilaku diri
terhadap orang lain
·
Assertiveness
Kemampuan
untuk mengekspresikan pemikiran dan perasaan dengan jelas. Tidak ragu, tidak
pasif, dan tidak segan untuk menyampaikan pendapat secara jelas
·
Kemandirian
Kemampuan
untuk mengarahkan dan mengendalikan diri sendiri serta bebas dari
ketergantungan emosional.
·
Respek pada diri sendiri (self regard)
Kemampuan
untuk menghargai aspek positif dalam diri. Pada sisi lain, dapat menerima
dengan lapang dada aspek negatif yang mungkin ada dalam diri.
·
Aktualisasi diri
Kemampuan
untuk merealisasikan kapasitas potensial diri.
þ The Interpersonal Realm
Kemampuan dan kemapanan
diri menyangkut "people skills",
yaitu kemampuan untuk berinteraksi dan bergaul dengan orang lain. Hal ini
terdiri atas tiga faktor:
·
Empati
Kemampuan
untuk memahami apa yang mungkin dirasakan dan dipikirkan orang lain. Merupakan
kemampuan untuk melihat dunia sekitar melalui sudut pandang orang lain
·
Tanggung jawab sosial
Kemampuan
untuk menunjukkan bahwa individu ikut berperan dan memberikan kontribusi bagi
aktivitas sosial atau bagi aktivitas yang terjadi dalam lingkungan sekitarnya.
·
Hubungan antar personal (interpesonal relationship)
Kemampuan
untuk mengembangkan, menjaga dan membina relasi yang produktif dan saling
menguntungkan
þ The General Mood Realm
Kemampuan dan kemapanan
diri yang menitikberatkan apa sudut pandang diri dalam memandang kehidupan.
General mood realm memiliki dua dimensi:
·
Happiness
Kemampuan
untuk merasakan kepuasan dengan hidup dan bahagia dengan kehidupan yang
dijalani. Kebahagiaan juga berkaitan dengan sudut pandang dalam memaknai rasa
syukur. Kebahagiaan tidak hanya mencakup aspek material semata, namun juga
mencakup kebahagiaan spiritual
·
Optimisme
Kemampuan
untuk selalu melihat sisi yang lebih terang dari kehidupan. Kecakapan untuk memelihara sikap positif
bahkan ketika tengah menghadapi musibah.
Optimism menunjukkan “ level harapan” dari seseorang dalam menyikapi realitas
kehidupan.
2. BUILDING COMMITMENT
þ
Building Positive Character
Karakter adalah kata kunci terpenting dalam
pembentukan watak dan perilaku manusia. Dalam topik ini, peserta belajar
mengasah lima elemen pembentuk karakter, yaitu:
·
Situational
Awareness (kesadaran
situasional). Makna dari kesadaran ini adalah sebuah kehendak untuk bisa
memahami dan peka akan kebutuhan serta hak orang lain.
·
Presense (kemampuan membawa diri). Bagaimana etika
penampilan, tutur kata dan tutur sapa, gerak tubuh ketika bicara dan
mendengarkan akan memberikan impresi bagi penilaian orang lain terhadap diri
sendiri.
·
Authenticity (autensitas) atau sinyal
dari perilaku yang melandasi penilaian orang lain dalam hal layak atau tidak
layak untuk dipercaya (trusted), kejujuran, keterbukaan serta ketulusan.
·
Clarity (kejelasan). Aspek ini menjelaskan kemampuan
untuk menyampaikan gagasan dan ide persuasif sehingga orang lain bisa
menerimanya dengan tangan terbuka.
·
Empathy
(empati). Aspek ini merujuk pada sikap
diri terhadap pandangan dan gagasan orang lain. Dan juga sejauh mana bisa
mendengarkan dan memahami maksud pemikiran orang lain.
þ
Peak Performance Building
Untuk meneguhkan
perubahan karakter, perlu penyesuaian diri dalam bersikap dan bertindak,
meliputi: Ubah Cara Berbicara, Ubah Cara Belajar, Ubah Cara Bergaul
dan Ubah Cara Berpikir.
Selanjutnya, dalam topik ini peserta
akan belajar lebih dalam lagi mengenai:
·
Proses Mengenal dan Memberi Perhatian
pada Hasrat Diri
·
Cara Menuntun Hasrat Menjelma Menjadi
Kenyataan
·
Langkah-langkah Efektif Membangun
Kebiasaan Positif
þ
Commitment Breakthrough
Komitmen adalah
sebuah keputusan untuk “melakukan
apa yang perlu dilakukan dalam kondisi apapun juga” . Tidak
berkompromi dengan alasan untuk tidak melakukan atau menunda apa yang telah
direncanakan. Untuk memiliki komitmen yang menggumpal,
peserta diberikan penajaman pembahasan mengenai:
·
Strategi Meningkatkan Semangat,
Keyakinan dan Kepercayaan Diri
·
Pentingnya Memiliki “Cash of Passion”,
dengan skema: Passion à Goal àStrategy à Plan à Massive Action à Massive Result.
·
The Power of Visualization &
Positive Affirmation
þ Building Success
Commitment with Giving Light Simulation
Dalam topik ini, setiap
peserta menuliskan komitmen sukses serta membacakan komitmen tersebut di
hadapan seluruh peserta untuk mendapatkan feedback dan apresiasi. Selanjutnya,
untuk memastikan bahwa komitmen tersebut benar-benar dijalankan, peserta
melakukan simulasi “giving light”.
Esensi dari simulasi ini
adalah bahwa ada dan tiadanya diri kita dalam kehidupan haruslah beda.
Eksistensi diri harus dinampakkan melalui karya nyata yang memberikan
kontribusi signifikan bagi sebanyak mungkin umat manusia. Prinsip yang akan
diangkat untuk menutup topik ini adalah “make a history, not just story”.
2. TAKING ACTION
þ People Management
Kemampuan
dalam membangun diri harus diimbangi dengan kemampuan membangun hubungan dengan
orang lain. Dalam menjalankan semua strategi pengembangan diri, keterlibatan
orang lain tidak bisa dihindari atau diabaikan. Kemampuan membangun sinergi dan
kolaborasi harus terus menerus diasah, meliputi:
·
Cara Efektif Menawarkan Ide
dan Gagasan kepada Orang Lain
·
Cara Efektif Mempraktekkan
Prinsip-Prinsip Hubungan Antar Manusia
·
Cara Efektif Membangun Tim
yang Solid
·
Cara Efektif Membangkitkan
Motivasi bagi Orang Lain
þ Creative Problem Solving
& Risk Management
Pada
saat membangun hubungan dengan orang lain, sangat mungkin terjadi masalah yang
memicu konflik. Berikut ini hal-hal yang harus dikuasai untuk mengatasi
timbulnya masalah sekaligus mengelola resiko:
·
Metode mendifinisikan
Masalah
·
Metode Menciptakan
Pemikiran Kreatif
·
Cara Menciptakan Iklim
Kreatif
#Trainer Cipto Utomo FM
CAPACITY BUILDING TRAINING
4/
5
Oleh
Tri Aji Budianto

